CERPEN
KONGKALINGKONG UN
Matahari menunjukkan wajah cerianya dan sesekali burung pipit membisikkan sesuatu tentang keanehan pagi yang biasanya ribut oleh anak sekolahan yang pergi menggali ilmu. Kulirik arlojiku waktu sudah jam tujuh, tapi aku masih berdiri di halte angkutan kota yang searah tujuan sekolah.
“Kenapa mukamu berkerut?” tiba-tiba Tomi sudah muncul disamping pundakku.
“Entahlah,mungkin karena akan UN,” jawabku sambil menoleh kekanan-kiri menunggu angkutan kota yang menghampiri.
“Santai sajalah” saran Tomi sambil senyum santai .
Aku mengangguk dan tersenyum, sejenak aku dilanda bimbang tapi ketika angkutan kota melintas di hadapan, aku menjuluirkan tangan dan ia pun berhenti, sepanjang perjalanan aku mendengar radio yang dihidupkan pak sopir yang mengatakan, UN tahun ini sangat sulit karena 6 mata pelajaran yang diuji dengan nilai rata-rata 5.00. Mendengar berita itu aku bermandi keringat dingin. Tak lama kemuadian spir menginjak rem angkot pun berhenti pas didepan gerbang besi sekolahku, tanpa basa-basi ku langkahkan kaki untuk masuk.
“Dek , uangnya!” pekik sopir angkot ke telinga.
“O iya,maaf pak “ jawabku dengan muka merah karena malu menghadapi terpaan badai cemoohan.
Ku langkahkan lagi masuk ke sekolah menuju ruangan UN yang kutahu sejak kemaren. Ku terhenti melihat pemandangan dari sekumpulan teman-teman di pintu wc belakang dengan plulpen dan secarik kertas lusuh.
“Mirsyad, ada apa sih, kok ngumpul?” tanyaku dengan muka berkerut.
“Ada kunci jawaban UN hari ini” jawabnya sambil menunjukkan kunci jawaban pada kertas lusuh. Aku heran darimana Mirsyad mengutil kunci jawaban itu .
“Gue dapat dari internet dan sms teman di padang” jawab Mirsyad dengan nada kebulatan tekad akan kebenaran hal itu.
Aku pun terbius mencatat di secarik kertas lusuh dan kotor yang dipungut di tong sampah sekolah. Setelah selesai kulirik arlojiku, waktu sudah hampir jam delapan. Semua siswa bertebaran ke ruangan masing bagai waria dirazia Satpol PP. Pengawas UN ruanganku dating, tepat jam delapan lewat sepuluh menit uijian pun dimulai. Suasana hening menghinggapi sekolah seperti tak bernyawa. Waktu terus berjalan sampai ujung waktu dan saatnya murid mengumpulkan ABO hasil ujian. Ujian bahasa Indonesia hari ini membuatku stres tapi berkat pertolongan kunci jawaban yang kuselipkan di kantong seragam dapat ku goreskan.Aku keluar dari ruangan melepas ketegangan. Suasana gemuruh siswa menggema di jagat raya sekolah kontras sekali ketika ujian berlagsung.
“Giman, bener kunci jawabannya kan?” tiba-tiba Mirsyad datang menepuk pundakku yang kecil tiada berdaging dan tak berdaya seperti nyiur dihembus angin laut namun bertahan agar tak tersungkur ke bumi.
“Benar, Syad,besok sms ke nomor hp gue kalu ada kunci jawaban untuk ujian besok!” bisikku sambil senyum dengan perasaan was-was didengar teman lain.
Tanpa berpikir panjang aku menuju gerbang untuk pulang agar UN besok dapat dimatangkan. Sampai di teras rumah, ku lepaskan sepatu lengkap alasnya. Kulemparkan tas dan peralatan ujian ke sofa yang baru direparasi di kios Aur Kuning .
“Bagaimana ujian nya, Li?” begitu ucapan Ibu menyampaikan perhatian kepada anaknya yang bertarung di medan ujian.
“Aman, Bu” jawabku dengan nada penuh semangat.
Aku ambil lagi tas dan peralatan ujian dan menentengnya ke kamar yang berserakan buku diatas ranjang. Aku lebih suka baca buku diatas ranjang ketimbang meja belajar yang menyempitkan dunia kamarku, bukannya aku kutu buku namun UN lah yang merubahku jadi kutu buku.
“Li, sholat Zhuhur dan makan dulu nak ntar sakit!” di lain waktu ibu berkata demikian pula kalau salah satu anaknya pulang menuntut ilmu. Sementara aku sering tidak mengindahkannya dengan seribu satu alasan. Tidak heran Malikat Atid mencatat kealpaan sholatku. Aku pun terus membaca buku, tak kepalang hari begitu cepat berlalu, mataharipun redup tak bergairah. Bel rumahku berbunyi sekitar jam delapan malam. Ku kejar pintu depan dan buka. Ternyata Doni yang bela-bela datang untuk meminta petuah padaku karena ketidakmengertian atas angka-angka di ujian esok. Metematika memang menjadi momok yang ditakuti Doni. Terkadang Doni menganggap aku tuhan akademiknya yang selalu meminta wahyu berupa ayat-ayat ujian .
. Aku dan Doni ditakdirkan seperti sebatang jarum diatas meja kaca dan magnet dibawahnya. Sejak kecil kami melekat kesana kemari. Doni adalah sahabat sekaligus saudara terbaikku. Sikap itu terpantul dari hal-hal kecil. Jika bermain melawan monster aku jadi ultraman dia jadi tentara penggempur paling tidak korban penyandraan. Ia mengejar layangan untukku, memetik buah delima di puncak pohonnya, dan megajari semua hal –hal menggugah hati orang lain. Terkadang aku sadar akan kelebihannya tapi aku lupa. Dari kecil ia tidak ingin belajar matematika, itu makanya dia ambil jurusan IPS. Doni semakin berang ke DEPDIKNAS yang memasukkan matematika dalam UN. Sayang aku tak punya daya memberi wangsit kepada Doni tapi aku sarankan kepada Doni untuk menunggu sms yang rencananya ku kirim esok. Doni pulang tertatih-tatih akan kebingungan maksud kata-kataku. Ku kembali ke ranjang dan berbaring seraya memejamkan mata. Lintasan-lintasan masa kecilku memang kerap kali muncul di kala aku mulai terlepas dari tugas-tugas sekolah .Diam-diam aku menikmatinya. Bahkan kenangan yang menyayat hati sekalipun.
Hari dan pagi berganti, bukannya suara pipit yang bersahutan malahan nada dering hp ku yang menerima sms dari Mirsyad. Dia memang tak munafik yang memegang kata-katanya. Anehnya Mirsyad mengirim kunci jawaban untuk hari ini dan besok.sekali sms dua jawaban dikirim.
Persiapanku untuk bertarung di medan ujian sudah matang, perlatan sudah terpasang hanya tinggal menembakkan senjata saat ujian nanti.
“Li, makan dulu” lagi-lagi kata lama yang kudengar dari mulut ibu. Dan seperti biasa aku mengindahkannya. Kadang aku berpikir, apakah ibu tidak pernah lupa sekali saja dengan kata itu. Padahal aku suadah dewasa. Kadang ibu terlalu otoriter menuntut kesempurnaan kami menurut kacamatanya.Ku pasangkan sepatu dan tanpa salam pada ibu, ku berangkat berperang dalam pentas UN. Sampai di sekolah tanda tanya besar muncul di otakku dengan rayut wajah teman-teman seolah tak ada kecemasan dihati mareka. Mungkinkah di seragam mereka terselip kunci jawaban yang disiapkan tadi malam?. Entahlah, itu urusan rumah tangga mereka. Aku seperti agen FBI yang selalu saja mengintrogasi orang lain. Aku teringat janjiku pada Doni untuk mengirim kunci jawaban. Ku tekan tombol kirim ke nomor hp Doni untunglah terkirim. Sebab isu yang beredar dimasyarakat sinyal hp akan dinonaktifkan oleh seluruh operator selama UN. Itulah salah satu sifat orang Indonesia yang menyebarkan isu tidak jelas, meskipun benar tentu operator seluler akan mencatat pena merah di laporan keuangannya. Kuintip arlojiku, waktu telah menunjukan jam delapan tepat, bergegas aku ke ruangan. Suasana sunyi senyap kembali menyelimuti sekolah saat UN berlangsung. Ku dengar suara kasak-kusuk kertas di penjuru ruangan untukm melihat jawaban yang akan digoreskan oleh teman-temanku. Mata mereka liar menerobos simpul-simpul badan peserta ujian demi menguntit gerak-gerik pengawas.Tak mau kalah, aku terombang-ambing dalam suasana kelas.waktu ujian pun sudah diujung tanduk dan ABO harus segera dikumpulkan.
Aku langsung pulang , bukannya belajar namun bersantai berhubung jawaban esok dalam genggaman. Ku kejar ranjang dikamar dan buku pun terpaksa menyingkir dari muka ranjang.
“Shalat dulu, Li” lirih suara Ibu mendengar azan Zhuhur menggema di seluruh negeri. Entah kenapa aku menuruti kata ibu padahal aku sering mengindahkannya layaknya pembunuh hati ibu tak berdosa. Seandainya bapak tahu aku tak menuruti kata ibu apalagi menyinggung soal kunci jawaban , misalnya aku dapat kunci itu dari teman , maka bapakku sambil bersuhut-suhut akan melantunkan sabda rutinnya yang membuat aku bungkam, beku tak membisu dengan kata mutiara yang bijaksana laksana petitih raja. Kuyakin jika Allah mengklasifikasikan semua dosaku pasti dosa pada ibu menempati klasemen teratas.
Esok pun tiba, hari terakhir UN tak terasa mendebarkan dan berharap lancar bagi tak ada kunci dalam tangan. Aku pamit pada ibu sambil memasang sepatu dan perkakas ujian lainnya. Sampai di gerbang sekolah terlihat tak ada kehidupan.
“Li, cepat ujian sudah mulai!” seperti kekhawatiran seorang bapak yang takut anaknya gagal ujian. Beliau satpam sekolah. Pak Don adalah aparatur negara yag berbintang paling rendah dari pada polisi lalu lintas. Pada jam istirahat beliau sering curhat tentang pahitnya hidup kepada siswa-siswi.
Aku bergegas berlari ke ruang ujian, tampak pengawas selesai membagi ABO. Lirik kekanan temanku telah beraksi, kunci jawaban keluar dan saat tepat untuk megoreskannya di lembaran ujian. Hanya empat puluh menit memyelesaikan semua. Satu persatu teman-teman bergerak keluar begitu juga dengan aku. Tak biasa ujian kali ini amat cepat. Akhir yang mendebarkan belum berakhir masih ada hari pembalasan atas perhitungan satu bulan kemudian.
Satu bulan telah berlalu, hari ini pembalsan atas perhitungan. Semua siswa digiring ke lapangan basket sekolah untuk mendengarkan sekaligus penerimaan lembar hasil ujian. Nilai sembilan koma lima puluh dua tersemat di lembar hasil ujianku. Semua siswa lulus 100 persen. Perasaan senang membanjiri hati tapi dengan hasil itu sebuah daratan kesedihan muncul dari genangan perasaan gembira, membayangkan kenangan saat ujian yang dusta pada diri sendiri. Dan betapa bodohnya umat Indonesia seandainya itu terjadi pada umat bangsa yang berorientasi hasil ketimbang proses dalam menggapai tujuan khususnya mendapatkan hasil ujian UN tinggi dan menikatkan prestise sekolah semata.
CREATED BY:
EFRIAZI
19 TAHUN, (PEKAN BARU,19 AGUSTUS 1989)
JALAN GAJAH VIII NO 15 A,AIR TAWAR BARAT,PADANG
MAHASISWA EKONOMI PEMBANGUNAN 2007
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
KONTAK : FERI (085263055345)
Ditulis dalam SEKILAS